Clutch pada Ducati

Posted: 5 January 2011 by Tuan Amos in Meccanica

Sistem clutch / kopling pada motor Ducati terbagi menjadi 2 tipe yang diaplikasikan, yaitu sitem kopling kering (dry clutch system) dan sistem kopling basah (wet clutch system). Kedua tipe tersebut menggunakan sistem pelat kopling majemuk / multiple clutch plates namun masing-masing sistem mempunyai bentuk kanvas yang sedikit berbeda dengan yang lainnya. Jumlah lempengan pelat dan lembar kanvas pada kedua sistem kopling tersebut (basah maupun kering) bervariasi tergantung pada tipe dan tahun dari motor itu diproduksi, tapi rata-rata jumlahnya antara 5 – 7 lembar kanvas kopling dan 7 – 9 lempengan pelat kopling (untuk motor sampai dengan tahun 2009). Motor Ducati produksi tahun 2010 keatas menggunakan 11 lembar kanvas dan 10 pelat kopling.

Sejak tahun 2004 Ducati menggunakan sistem kopling basah APTC (Adler Power Torque Plate Clutch) yang didesain dan dipatenkan oleh Adler dan dikembangkan oleh R&D Ducati spesifik untuk motor Ducati. Motor pertama yang mengaplikasikan sistem APTC ini adalah M620 dan M620 Dark. Keuntungan dari sistem Adler ini adalah lebih ringan pada saat menarik pegas kopling dan juga mengurangi efek ‘torsi balik’ sehingga menghindari ‘terkunci’ nya ban pada saat penurunan gigi perseneling secara ekstrim. Motor Ducati tahun produksi 2010 keatas menggunakan sistem APTC ini ditambah dengan penggunaan servo motor listrik untuk membantu pergerakkan pelat dan kanvas kopling didalam basket kopling tersebut.

Kedua tipe kopling tersebut diatas (basah / kering) mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Sistem kopling basah (sesuai namanya) terletak didalam mesin sehingga kanvas dan pelat koplingnya terendam dalam oli mesin, ini diaplikasikan agar pertama adalah supaya tidak perlu lagi membuat ruang khusus didalam mesin yang tidak terkena oli sehingga membuat mesin lebih ringan, dan kedua adalah oli mesin dipergunakan untuk membantu mendinginkan sistem kopling tersebut. Sedangkan pada sistem kopling kering terdapat ruangan khusus didalam mesin yang tidak berhubungan dengan oli dari mesin tersebut, sehingga kopling bebas dari oli dan menggunakan udara sebagai pendinginnya.

Sistem kopling kering (yang digunakan juga pada Moto GP) pada motor-motor Ducati sampai dengan tahun 2007 diterapkan pada motor dengan kapasitas 900cc keatas (M900, MS2R1000, SS900, ST, MTS1000DS, dll) dan tipe Superbike (748, 749, 916-999). Dimana mesin dengan kapasitas dibawah 900cc (kecuali tahun 2007 keatas) menggunakan sistem kopling basah (M400, M600, M620, M750, MS2R800, SS750, dll).

Sistem kopling kering dapat menyalurkan tenaga yang dihasilkan oleh mesin ke roda belakang dengan lebih sempurna (relatif tanpa adanya slip) jika dibandingkan dengan kopling basah, yang pastinya akan ada sekali-kali selip kopling karena adanya pelumasan oleh oli mesin itu sendiri.

Sistem kopling basah, walaupun sistem kerjanya tidak banyak berbeda dengan sistem kopling kering dan secara performa tidak bisa sesempurna kopling kering dalam hal penyaluran tenaganya namun relatif lebih awet dalam hal pemeliharaan dan penggantian pelat maupun kanvasnya dibanding sistem kopling kering yang harus lebih sering dibersihkan, diukur dan bahkan diganti pelat maupun kanvasnya karena relatif lebih cepat ausnya. Mungkin karena itu juga motor Ducati keluaran 2010 keatas lebih banyak mengaplikasikan kopling basah sebagai media penyalur tenaganya, termasuk tipe Superbike 848, M1100evo, MTS1200 dan juga Diavel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s